Apakah universitas, membangun potensi muda di industri kreatif

Siapa yang tidak kenal Erix Soekamti? Pimpinan dari band punk rock asal Yogyakarta, Endank Soekamti dikenal aktif dan antusias dalam berkarya. Jiwa kreatif Erix Soekamti tidak hanya hadir di bidang musik. Ia juga berperan besar dalam mempromosikan potensi anak bangsa melalui aspek akademik. Erix Soekamti menjadi serius pada tahun 2015 dan memulai sekolah kejuruan non-formal untuk animator bernama Does University.

Apakah-universitas,-membangun-potensi-muda-di-industri-kreatif

Berikut Ini Telah Kami Kumpulkan Yang Bersumber Dari Laman chord lagu indonesia Yang Akhirnya Saya Tuliskan Disini.

Apakah universitas, membangun potensi muda di industri kreatif

Sebelum mendirikan Does University, Erix Soekamti tertarik pada bidang visual, khususnya animasi dan pembuatan film. Erix Soekamti yang sebelumnya fokus pada musik perlahan mulai menggeluti dunia visual. Ini dimulai pada 2012 setelah Erix Soekamti mendirikan Euphoria Audio Visual.

Seiring waktu, dia juga merasa bahwa keahliannya berubah dan meningkat. Dari sana, Erix Soekamti memahami bahwa dengan niat yang kuat, upaya yang tekun, serta akses dan fasilitas pendidikan yang memadai, siapa pun bisa menjadi apa yang diinginkannya. Berdasarkan pandangan dan pemahaman tersebut, Erix Soekamti akhirnya meluncurkan Does University bagi siapa saja yang tertarik dengan dunia animasi dan visualisasi agar dapat belajar dan menggunakan keahliannya dalam industri kreatif yang terus berkembang.

Pada game pertamanya, Erix Soekamti hanya meluluskan  10 orang

untuk mengikuti pembelajaran di Does University dengan fokus animasi, compositor dan 3D modeler. Kesepuluh mahasiswa yang diterima di Does University berasal dari berbagai daerah di Indonesia mulai dari Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Balikpapan, Bali dan lainnya. Selain itu, para siswa tersebut harus menjalani proses karantina selama 6 bulan, layaknya sekolah yang memiliki kos. Karantina diharapkan agar setiap siswa dapat mengikuti perkuliahan dan meningkatkan keterampilannya secara intensif. Selain itu, karantina ini juga menjadi wadah bagi para siswa untuk saling mengenal satu sama lain untuk berkolaborasi dan membantu meningkatkan proses kerja atau menemukan teknik baru dalam membuat karya animasi. Salah satu guru yang terlibat di Does University adalah Doni, yang merupakan animator untuk serial Adit, Sopo, Jarwo.

Setelah menyelesaikan studi mereka di Does University

, 10 siswa yang telah dikarantina selama 6 bulan diharuskan bekerja di Does University selama 6 bulan tambahan. Layanan ini ditawarkan dalam bentuk staf pengajar. 10 mahasiswa dari kelompok pertama ditunjuk untuk mengajar 100 mahasiswa baru Universitas Does University. Apakah universitas juga memiliki proses seleksi yang ketat untuk mahasiswanya? Ini perlu, seperti karakter dan keinginan calon siswa yang mendaftar. Mengingat universitas tidak memungut biaya sama sekali, keseriusan mahasiswa dalam mengenyam pendidikan dan meningkatkan keterampilan secara pribadi menjadi keutamaan yang memandu proses seleksi.

Selain berfokus pada animasi, kompositor, dan pemodel 3D, Erix Soekamti ingin Does University menjadi tempat di mana siswa selalu dapat berpikir dan bekerja secara kreatif untuk melakukan pekerjaan berkualitas tinggi dan global. Erix Soekamti juga berharap mahasiswa yang tergabung dalam Does University dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, lingkungan, dan industri sekitarnya melalui kreativitas setiap mahasiswanya. Untuk kurikulumnya sendiri, Erix Soekamti memutuskan untuk membuat kurikulum atau kurikulum dalam siklus satu tahun. Hal tersebut dilakukan agar kurikulum pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan lingkungan dan industri kreatif saat ini. Jadi siswa tidak merasa ketinggalan saat mereka melangkah ke industri yang lebih luas untuk mengembangkan karir mereka.

Untuk pendanaannya sendiri, Erix Soekamti menyediakan dana untuk menjual barang-barang untuk biaya sekolah non-formal yang ia dirikan. Erix Soekamti juga melibatkan beberapa mahasiswa Does University dalam mendesain lini barang yang akan dijual. Selain itu, Erix Soekamti juga bekerja dengan banyak pengrajin di Yogyakarta, termasuk cincin perak, tas, topi, dan lain-lain, untuk membuat barang-barang Does University. Kerja sama ini juga dilakukan oleh Erix Soekamti untuk meningkatkan roda perekonomian UMKM khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya.

Erix Soekamti juga menggunakan platform media sosialnya seperti Instagram dan Youtube untuk meningkatkan kesadaran publik akan kehadiran Does University. Erix Soekamti sering melaporkan kehidupan siswa selama masa karantina di Does University dalam vlog yang dibuat oleh penyanyi dan bassis.

 

  Lihat Juga : https://www.chordindonesia.com/guyonwaton-perlahan